Powered By Blogger

2017-03-30

Aku & Secangkir Kopi, Berteman Pelangi Senja

Kalau kau ingin mencariku, masuklah ke kafe di bawah pohon dalam jalan searah
Kafe yang tidak terlalu mewah namun sangat nyaman bagiku dengan secangkir kopi
Pergilah, jangan lupa kau ceritakan aku tentang pelagi indah di senja yang kau lihat itu
Jika sudah sampai, masuk saja, aku menantimu di sudut ruangan kafe, dekat meja bartender
Hari ini tidak terlalu ramai, tak perlu kau sungkan masuk saja, anggap saja rumahmu
Nikmati kopi hangat yang sudah kupesan barusan untukmu, semoga kau suka dengannya
Kau tahu apa maksudku mengajakmu pergi ke kafe ini? Aku harap kau sudi di sini denganku
Silakan kau tebak saja apa yang ingin kukatakan untukmu di sini, bukan sembarang tempat
Jikalau terlalu memaksa, biarkan kita habiskan banyak waktu di sini, biarkan mengalir apa adanya
Terserah kau saja, apa aku atau kau yang mulai pembicaraan yang mungkin kau anggap tak berguna

Masih dengan diriku, sedari tadi ditemani kopi hangat dengan uap beraroma menenangkan
Dengan obrolan tentang pelangi senja yang kau suka itu, sepertinya aku sangat tertarik
Kau pun tersipu malu saat menatap wajahku, meski tak serupawan seperti pemuda di kotamu
Mungkin kau tertarik juga dengan duniaku : kopi, stadion bola, & berkelana di atas rel besi
Aku tak menyangka, kau mampir ke sini, kukira kau lupa denganku, pengagum senja hari
Di mana dulu aku sering mengirimkan sesuatu untukmu, yang hingga kini kau masih pakai
Dan kau bercerita selama kau di kota sana & kekagumanmu dengan seluk beluk kota ini
Namun, kotaku tak semacet & sepanas di kotamu kan? Nikmati saja selagi kau masih di sini
Andai saja kota kita bersebelahan, kita bisa bertemu tiap hari, namun itu sudah kehendak-Nya
Dan kita bisa bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang keluarga kita, atau kehidupanmu

Sepertinya, senja pun semakin jelas, dengan senja jingga yang menghangatkan, dengan aroma kopi
Dengan obrolan yang mungkin bising namun berkesan sangat tepat untuk melepas rindu
Dan diselingi dengan seruputan kopi yang mulai mendingin lantaran terlalu asik denganmu
Jangan salahkan aku jika aku sering melamum memandangmu dengan semua kekagumanku
Ingatkah kau saat kita pertama kali bertemu di kota yang kita sama-sama asing itu senja hari?
Dengan keramahanmu, canda tawamu, goresan senyummu, & semua tentang dirimu
Semenjak itu, kekagumanku sering kusimpan di tiap sel otak, susah bahkan tak bisa lupakan itu
Bahkan kau racuni otakku tanpa kau sakiti aku, atau itu racun manis tak menyakitkan
Namun membuatku ketagihan memikirkanmu, bahkan tak sadar aku selipkan namamu di doa
Dan kini, bisa jadi doaku sedikit terkabul dengan ditakdirkan dipertemukan di kafe ini

Hampir 3 jam kita di sini, dengan semua canda tawa & cerita tentangmu di kota jauh sana
Dan obrolan tanpa tema yang membuatmu sering tersenyum, sampai aku lupa diri, menyenangkan
Tak ada tanda-tanda kau bosan denganku, apalagi kau tergesa-gesa ingin kembali
Justru kau sangat menikmatinya, & tak disadari kopi kita sudah tinggal cangkir & piring kecil
Pergolakan jiwa pun dimulai, apakah aku harus ungkapkan saja apa yang aku pendam untukmu
Tak kuungkapkan salah, kuungkapkan salah juga, namun kulihat ekspresinya yang berikan kode
Kugenggam tangannya, mengapa tanganku menjadi dingin? Atau seperti lebih kaku
Kuberanikan diri untuk ungkapkan hasrat yang kupendam untuku : AISHITERU, SENİ SEVİYORUM, atau sejenisnya
Sontak kau terkejut, namun seperti tersenyum indah seperti goresan pelangi senja
Esok hari, seterusnya, sampai mati nanti, aku ingin bersamamu apapun yang kita alami

(Di suatu kota yang di mana aku merindukanmu, 17 Maret 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar