Jujur saja jika memendam rindu itu menyiksa, tapi mau bagaimana lagi, merindukanmu adalah racun, tak merindu pun juga salah, harus apa?
Kata per kata pun sudah kuungkapkan untukmu, doa-doaku sudah kupanjatkan, namun racun-racun itu susah kubuang juga, menyesakkan
Berkeinginan bertemu tak kuasa, tak bertemu selalu merasa aneh & mengganjal otak, bahkan kehampaan adalah makananku setiap hari
Memimpikanmu memang hal terindah, namun jika terlalu sering tanpa berjumpa langsung denganmu sangat menyiksa batin & jasad ini
Terbentang luas sawah & hutan, berdiri tegak gunung & bukit, menganga lebar sungai & danau, menjadi tapal batas penghalang kita, entahlah
Setiap senja tiba sebelum berpisah dengan surya, kini aku hanya bisa menikmati keindahan senja sembari menantikanmu datang dari sana
Bukankah kau menyukai waktu senja? Bukankah kau mengumi temaram jingga senja? Atau kau suka senja karena waktu pertama kita berjumpa?
Di sini, memandang senja dari arah surya sirna, di sanalah kau tinggal & menghabiskan banyak usiamu di sana, jauh sekali kita berjarak terpisah
Alunan kidung kerinduan sudah membosankan, amarah jiwa yang terpendam susah membara, bahkan tak bisa berkobar lagi, terkulai melemah
Memori demi memori hanya sebagai hiburan yang tanpa realisasi, tanpa repetisi, tanpa arti, kala aku memulai cerita baru, tak semudah begitu
Sepucuk asa yang hampir patah kala kerinduan tergerus realita, mustahil jika kuwujudkan impian yang ingin kuulang, terlalu indah perjumpaan itu
Raga tak bisa bersatu, sukma mustahil bergerak untuk saling menyapa, meski hasrat menggebu-gebu layaknya sepasang yang akan bersatu lama
Hari ini, kucoba sekali lagi berdoa untukmu, lalu berdoa untuk perjumpaan kembali seperti senja kala itu, lalu berdoa tentang keinginanku & asaku
Kutitipkan pada-Nya, tentang yang kurasakan, kuinginkan, lalu kulipat & kumasukkan doa itu ke ujung doa tiap pagi yang masih berselimut dingin
Teruntuk Cantika, aku mulai lelah merindukanmu, bisakah kita bertemu sekali lagi & bolehkah jika aku memelukmu erat, sebagai wujud kerinduan?
(30 Maret 2017, kala surya menyapa hangat bumi, di tempat di mana aku merenung)
Seonggok karya dari sosok yang tak dikenal. Selamat menikmati tumpukan kata yang tak berguna ini.
2017-03-30
Senandung Kesepian Lahir Batin
Suatu ketika, aku harus melalui jalan yang sepi
Entah mengapa aku teringat dengan masa laluku?
Suram, penuh dosa, terlalu hina derajatku
Mungkin bahkan dosa-dosaku takkan diampuni
Bisa saja saking kejinya dosaku selama ini
Dengan tatapan kosong, memandang jalanan sepi
Air mata ini seakan tumpah & terurai tetes demi tetes
Sehina inikah aku? Hingga aku ditinggalkan, sepi sunyi
Kesepian yang membunuhku, terlalu menyiksa
Apakah harus kuakhiri saja perjalanan hidupku?
Rabbku, kala aku menjauh, Kau masih berharap
Berharap agar aku mendekat dengan-Mu
Meninggalkan-Mu adalah kebodohanku yang besar
Terkadang serasa ingin kuakhiri hidupku
Namun Kau tak berkenan, justru Kau cegah aku
Tapi dengan kesalahanku, aku merasa hina
Seakan jauh dari kasih sayang dari-Mu
Bisa saja hari ini maafku tak Kau terima
Bisa saja hari ini tobatku Kau tolak mentah-mentah
Bisa saja hari ini doaku takkan Kau dengar selamanya
Jika Kau tolak tobatku
Jika Kau tak terima maafku
Jika Kau tak dengar doaku
Kepada siapa lagi aku meminta?
(22 Maret 2017, termenung di atas sajadah dengan tatapan kosong, ujung senja)
Entah mengapa aku teringat dengan masa laluku?
Suram, penuh dosa, terlalu hina derajatku
Mungkin bahkan dosa-dosaku takkan diampuni
Bisa saja saking kejinya dosaku selama ini
Dengan tatapan kosong, memandang jalanan sepi
Air mata ini seakan tumpah & terurai tetes demi tetes
Sehina inikah aku? Hingga aku ditinggalkan, sepi sunyi
Kesepian yang membunuhku, terlalu menyiksa
Apakah harus kuakhiri saja perjalanan hidupku?
Rabbku, kala aku menjauh, Kau masih berharap
Berharap agar aku mendekat dengan-Mu
Meninggalkan-Mu adalah kebodohanku yang besar
Terkadang serasa ingin kuakhiri hidupku
Namun Kau tak berkenan, justru Kau cegah aku
Tapi dengan kesalahanku, aku merasa hina
Seakan jauh dari kasih sayang dari-Mu
Bisa saja hari ini maafku tak Kau terima
Bisa saja hari ini tobatku Kau tolak mentah-mentah
Bisa saja hari ini doaku takkan Kau dengar selamanya
Jika Kau tolak tobatku
Jika Kau tak terima maafku
Jika Kau tak dengar doaku
Kepada siapa lagi aku meminta?
(22 Maret 2017, termenung di atas sajadah dengan tatapan kosong, ujung senja)
Aku & Secangkir Kopi, Berteman Pelangi Senja
Kalau kau ingin mencariku, masuklah ke kafe di bawah pohon dalam jalan searah
Kafe yang tidak terlalu mewah namun sangat nyaman bagiku dengan secangkir kopi
Pergilah, jangan lupa kau ceritakan aku tentang pelagi indah di senja yang kau lihat itu
Jika sudah sampai, masuk saja, aku menantimu di sudut ruangan kafe, dekat meja bartender
Hari ini tidak terlalu ramai, tak perlu kau sungkan masuk saja, anggap saja rumahmu
Nikmati kopi hangat yang sudah kupesan barusan untukmu, semoga kau suka dengannya
Kau tahu apa maksudku mengajakmu pergi ke kafe ini? Aku harap kau sudi di sini denganku
Silakan kau tebak saja apa yang ingin kukatakan untukmu di sini, bukan sembarang tempat
Jikalau terlalu memaksa, biarkan kita habiskan banyak waktu di sini, biarkan mengalir apa adanya
Terserah kau saja, apa aku atau kau yang mulai pembicaraan yang mungkin kau anggap tak berguna
Masih dengan diriku, sedari tadi ditemani kopi hangat dengan uap beraroma menenangkan
Dengan obrolan tentang pelangi senja yang kau suka itu, sepertinya aku sangat tertarik
Kau pun tersipu malu saat menatap wajahku, meski tak serupawan seperti pemuda di kotamu
Mungkin kau tertarik juga dengan duniaku : kopi, stadion bola, & berkelana di atas rel besi
Aku tak menyangka, kau mampir ke sini, kukira kau lupa denganku, pengagum senja hari
Di mana dulu aku sering mengirimkan sesuatu untukmu, yang hingga kini kau masih pakai
Dan kau bercerita selama kau di kota sana & kekagumanmu dengan seluk beluk kota ini
Namun, kotaku tak semacet & sepanas di kotamu kan? Nikmati saja selagi kau masih di sini
Andai saja kota kita bersebelahan, kita bisa bertemu tiap hari, namun itu sudah kehendak-Nya
Dan kita bisa bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang keluarga kita, atau kehidupanmu
Sepertinya, senja pun semakin jelas, dengan senja jingga yang menghangatkan, dengan aroma kopi
Dengan obrolan yang mungkin bising namun berkesan sangat tepat untuk melepas rindu
Dan diselingi dengan seruputan kopi yang mulai mendingin lantaran terlalu asik denganmu
Jangan salahkan aku jika aku sering melamum memandangmu dengan semua kekagumanku
Ingatkah kau saat kita pertama kali bertemu di kota yang kita sama-sama asing itu senja hari?
Dengan keramahanmu, canda tawamu, goresan senyummu, & semua tentang dirimu
Semenjak itu, kekagumanku sering kusimpan di tiap sel otak, susah bahkan tak bisa lupakan itu
Bahkan kau racuni otakku tanpa kau sakiti aku, atau itu racun manis tak menyakitkan
Namun membuatku ketagihan memikirkanmu, bahkan tak sadar aku selipkan namamu di doa
Dan kini, bisa jadi doaku sedikit terkabul dengan ditakdirkan dipertemukan di kafe ini
Hampir 3 jam kita di sini, dengan semua canda tawa & cerita tentangmu di kota jauh sana
Dan obrolan tanpa tema yang membuatmu sering tersenyum, sampai aku lupa diri, menyenangkan
Tak ada tanda-tanda kau bosan denganku, apalagi kau tergesa-gesa ingin kembali
Justru kau sangat menikmatinya, & tak disadari kopi kita sudah tinggal cangkir & piring kecil
Pergolakan jiwa pun dimulai, apakah aku harus ungkapkan saja apa yang aku pendam untukmu
Tak kuungkapkan salah, kuungkapkan salah juga, namun kulihat ekspresinya yang berikan kode
Kugenggam tangannya, mengapa tanganku menjadi dingin? Atau seperti lebih kaku
Kuberanikan diri untuk ungkapkan hasrat yang kupendam untuku : AISHITERU, SENİ SEVİYORUM, atau sejenisnya
Sontak kau terkejut, namun seperti tersenyum indah seperti goresan pelangi senja
Esok hari, seterusnya, sampai mati nanti, aku ingin bersamamu apapun yang kita alami
(Di suatu kota yang di mana aku merindukanmu, 17 Maret 2017)
Kafe yang tidak terlalu mewah namun sangat nyaman bagiku dengan secangkir kopi
Pergilah, jangan lupa kau ceritakan aku tentang pelagi indah di senja yang kau lihat itu
Jika sudah sampai, masuk saja, aku menantimu di sudut ruangan kafe, dekat meja bartender
Hari ini tidak terlalu ramai, tak perlu kau sungkan masuk saja, anggap saja rumahmu
Nikmati kopi hangat yang sudah kupesan barusan untukmu, semoga kau suka dengannya
Kau tahu apa maksudku mengajakmu pergi ke kafe ini? Aku harap kau sudi di sini denganku
Silakan kau tebak saja apa yang ingin kukatakan untukmu di sini, bukan sembarang tempat
Jikalau terlalu memaksa, biarkan kita habiskan banyak waktu di sini, biarkan mengalir apa adanya
Terserah kau saja, apa aku atau kau yang mulai pembicaraan yang mungkin kau anggap tak berguna
Masih dengan diriku, sedari tadi ditemani kopi hangat dengan uap beraroma menenangkan
Dengan obrolan tentang pelangi senja yang kau suka itu, sepertinya aku sangat tertarik
Kau pun tersipu malu saat menatap wajahku, meski tak serupawan seperti pemuda di kotamu
Mungkin kau tertarik juga dengan duniaku : kopi, stadion bola, & berkelana di atas rel besi
Aku tak menyangka, kau mampir ke sini, kukira kau lupa denganku, pengagum senja hari
Di mana dulu aku sering mengirimkan sesuatu untukmu, yang hingga kini kau masih pakai
Dan kau bercerita selama kau di kota sana & kekagumanmu dengan seluk beluk kota ini
Namun, kotaku tak semacet & sepanas di kotamu kan? Nikmati saja selagi kau masih di sini
Andai saja kota kita bersebelahan, kita bisa bertemu tiap hari, namun itu sudah kehendak-Nya
Dan kita bisa bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang keluarga kita, atau kehidupanmu
Sepertinya, senja pun semakin jelas, dengan senja jingga yang menghangatkan, dengan aroma kopi
Dengan obrolan yang mungkin bising namun berkesan sangat tepat untuk melepas rindu
Dan diselingi dengan seruputan kopi yang mulai mendingin lantaran terlalu asik denganmu
Jangan salahkan aku jika aku sering melamum memandangmu dengan semua kekagumanku
Ingatkah kau saat kita pertama kali bertemu di kota yang kita sama-sama asing itu senja hari?
Dengan keramahanmu, canda tawamu, goresan senyummu, & semua tentang dirimu
Semenjak itu, kekagumanku sering kusimpan di tiap sel otak, susah bahkan tak bisa lupakan itu
Bahkan kau racuni otakku tanpa kau sakiti aku, atau itu racun manis tak menyakitkan
Namun membuatku ketagihan memikirkanmu, bahkan tak sadar aku selipkan namamu di doa
Dan kini, bisa jadi doaku sedikit terkabul dengan ditakdirkan dipertemukan di kafe ini
Hampir 3 jam kita di sini, dengan semua canda tawa & cerita tentangmu di kota jauh sana
Dan obrolan tanpa tema yang membuatmu sering tersenyum, sampai aku lupa diri, menyenangkan
Tak ada tanda-tanda kau bosan denganku, apalagi kau tergesa-gesa ingin kembali
Justru kau sangat menikmatinya, & tak disadari kopi kita sudah tinggal cangkir & piring kecil
Pergolakan jiwa pun dimulai, apakah aku harus ungkapkan saja apa yang aku pendam untukmu
Tak kuungkapkan salah, kuungkapkan salah juga, namun kulihat ekspresinya yang berikan kode
Kugenggam tangannya, mengapa tanganku menjadi dingin? Atau seperti lebih kaku
Kuberanikan diri untuk ungkapkan hasrat yang kupendam untuku : AISHITERU, SENİ SEVİYORUM, atau sejenisnya
Sontak kau terkejut, namun seperti tersenyum indah seperti goresan pelangi senja
Esok hari, seterusnya, sampai mati nanti, aku ingin bersamamu apapun yang kita alami
(Di suatu kota yang di mana aku merindukanmu, 17 Maret 2017)
Tentangku, Harapanku, & Memori yang Terserak di Ujung Jalan di Senja
Jika ingin menemuiku, cari saja di jalan sepi itu, terus saja sampai suatu tempat
Di mana ada sesosok manusia yang kehilangan jati diri, harapan, & memori
Yang terpaku kebingungan apa yang harus dilakukan & bagaimana agar tegar
Kau tahu? Mengapa aku di sini? Mengapa aku terdiam lesu di ujung jalan?
Sedih tatap mentari akan pergi, tepat di ujung jalan ini, dengan tatapan kosong
Di sini hanya berteman sepi, berjaket angin hangat senja yang akan sirna
Boleh saja kau tebak yang aku pikirkan sekarang, dengan wajahku yang kusut
Sedih, duka, gundah, gelisah, stres, linglung, putus asa, atau apapun itu, entahlah
Kau pasti bertanya mengapa hal itu terjadi, tetapi terlalu panjang untuk cerita
Ya, kau boleh saja menebak lantaran aku merasa bersalah, atau kehilangan
Itulah yang menyebabkanku menyepi & terdiam di sini, terlalu sedih di jalan ini
Mengejar sesuatu, mengejar seseorang, lelah tak terkira, banyak berharap
Terus berlari mengejar, kulihat bayang seseorang & impianku sendiri di sana
Tapi itu terlalu cepat menjauh, aku mulai kehabisan tenaga & semangatku
Hingga akhirnya aku tersungkur di ujung jalan yang sepi tanpa siapa pun di sini
Menghilang ditelan mentari, atau pandanganku yang kabur lantaran kelelahan
Semua tentang diriku, harapanku, & memoriku terserak & berantakan, sedih
Sampai aku tak tahu lagi bagaimana menyusunnya, tak tahu lagi harus apa
Pengembaraanku terhenti, perjuanganku mungkin berakhir di ujung senja itu
Sebuah misteri : Ke mana kau pergi? Ke mana mimpiku lari? Mengapa hilang?
Kau entah di mana sekarang, bukankah kau janji takkan menghilang? Lupakah?
Kini saat aku mengejarmu, kau justru menghilang, dibohongi harapan palsu?
Aku tetap bersabar di sini, meski kau entah di mana sekarang, masih bersabar
Entah kau lupakan aku, atau membenciku, atau apalah itu, terserah kau itu
Masih teringat saat aku mengejarmu karena penasaran tentang sosok indah itu
Yang kemudian saling memendam perasaan, lalu berujung pada keputusasaan
Mengejarmu adalah dosaku mengapa aku tak segera kuungkapkan hal itu
Tentang diriku, kepada jati diriku yang terlepas & tumpah di atas ujung jalan ini
Terlalu banyak perbuatan yang sia-sia, mengecewakan, & menyebabkanku nista
Aku ingin menghapus semua kesalahanku, berdoa & merenungkan di sini
Tuhan, sehina inikah aku, sampai Kau tak izinkan aku berlari untuk melupakan?
Apa ini juga yang menyebabkan seseorang yang kukagumi itu meninggalkanku?
Atau mengapa? Tertunduk lesu di sini, menyesali kebodohanku, menyedihkan
Haruskah aku berubah demi seseorang? Aku rasa itu bukan alasan yang tepat
Berubah untuk diri sendiri adalah keharusan untukku demi masa depanku ini
Apa daya, untuk bangkit pun tak kuasa, berlari pun tak mampu lagi, suram
Biarkan aku di sini, meresapi senja yang mulai pergi & menghilang di ujung jalan
Entah kau kembali atau tidak, itu terserah kau, aku tidak memaksa kau lagi
Terserah kau nilai aku bagaimana, aku ikhlas menerima caci makimu kepadaku
Kepada tentangku, harapanku, & memori yang terserak di ujung jalan di senja
Maafkan diriku & semua masa laluku yang terlalu suram, hitam, kelam, kejam
Kini senja berganti menjadi malam : sepi, dingin, haru, beku, berbumbu gelisah
Untukmu yang menghilang di saat aku mengejarmu sampai jatuh di ujung jalan
Jika esok hari atau selang waktu yang lama kau kembali ke sini, ujung jalan ini
Jangan kau tangisi jika aku sudah tak ada di sini, kuadukan semua pada Tuhan
(Penghujung malam yang sepi, di tengah kebuntuanku, 3 Maret 2017 : Untuk dirimu yang di ujung sana tempat mentari tenggelam)
Di mana ada sesosok manusia yang kehilangan jati diri, harapan, & memori
Yang terpaku kebingungan apa yang harus dilakukan & bagaimana agar tegar
Kau tahu? Mengapa aku di sini? Mengapa aku terdiam lesu di ujung jalan?
Sedih tatap mentari akan pergi, tepat di ujung jalan ini, dengan tatapan kosong
Di sini hanya berteman sepi, berjaket angin hangat senja yang akan sirna
Boleh saja kau tebak yang aku pikirkan sekarang, dengan wajahku yang kusut
Sedih, duka, gundah, gelisah, stres, linglung, putus asa, atau apapun itu, entahlah
Kau pasti bertanya mengapa hal itu terjadi, tetapi terlalu panjang untuk cerita
Ya, kau boleh saja menebak lantaran aku merasa bersalah, atau kehilangan
Itulah yang menyebabkanku menyepi & terdiam di sini, terlalu sedih di jalan ini
Mengejar sesuatu, mengejar seseorang, lelah tak terkira, banyak berharap
Terus berlari mengejar, kulihat bayang seseorang & impianku sendiri di sana
Tapi itu terlalu cepat menjauh, aku mulai kehabisan tenaga & semangatku
Hingga akhirnya aku tersungkur di ujung jalan yang sepi tanpa siapa pun di sini
Menghilang ditelan mentari, atau pandanganku yang kabur lantaran kelelahan
Semua tentang diriku, harapanku, & memoriku terserak & berantakan, sedih
Sampai aku tak tahu lagi bagaimana menyusunnya, tak tahu lagi harus apa
Pengembaraanku terhenti, perjuanganku mungkin berakhir di ujung senja itu
Sebuah misteri : Ke mana kau pergi? Ke mana mimpiku lari? Mengapa hilang?
Kau entah di mana sekarang, bukankah kau janji takkan menghilang? Lupakah?
Kini saat aku mengejarmu, kau justru menghilang, dibohongi harapan palsu?
Aku tetap bersabar di sini, meski kau entah di mana sekarang, masih bersabar
Entah kau lupakan aku, atau membenciku, atau apalah itu, terserah kau itu
Masih teringat saat aku mengejarmu karena penasaran tentang sosok indah itu
Yang kemudian saling memendam perasaan, lalu berujung pada keputusasaan
Mengejarmu adalah dosaku mengapa aku tak segera kuungkapkan hal itu
Tentang diriku, kepada jati diriku yang terlepas & tumpah di atas ujung jalan ini
Terlalu banyak perbuatan yang sia-sia, mengecewakan, & menyebabkanku nista
Aku ingin menghapus semua kesalahanku, berdoa & merenungkan di sini
Tuhan, sehina inikah aku, sampai Kau tak izinkan aku berlari untuk melupakan?
Apa ini juga yang menyebabkan seseorang yang kukagumi itu meninggalkanku?
Atau mengapa? Tertunduk lesu di sini, menyesali kebodohanku, menyedihkan
Haruskah aku berubah demi seseorang? Aku rasa itu bukan alasan yang tepat
Berubah untuk diri sendiri adalah keharusan untukku demi masa depanku ini
Apa daya, untuk bangkit pun tak kuasa, berlari pun tak mampu lagi, suram
Biarkan aku di sini, meresapi senja yang mulai pergi & menghilang di ujung jalan
Entah kau kembali atau tidak, itu terserah kau, aku tidak memaksa kau lagi
Terserah kau nilai aku bagaimana, aku ikhlas menerima caci makimu kepadaku
Kepada tentangku, harapanku, & memori yang terserak di ujung jalan di senja
Maafkan diriku & semua masa laluku yang terlalu suram, hitam, kelam, kejam
Kini senja berganti menjadi malam : sepi, dingin, haru, beku, berbumbu gelisah
Untukmu yang menghilang di saat aku mengejarmu sampai jatuh di ujung jalan
Jika esok hari atau selang waktu yang lama kau kembali ke sini, ujung jalan ini
Jangan kau tangisi jika aku sudah tak ada di sini, kuadukan semua pada Tuhan
(Penghujung malam yang sepi, di tengah kebuntuanku, 3 Maret 2017 : Untuk dirimu yang di ujung sana tempat mentari tenggelam)
Langganan:
Postingan (Atom)
