Powered By Blogger

2017-03-30

Tentangku, Harapanku, & Memori yang Terserak di Ujung Jalan di Senja

Jika ingin menemuiku, cari saja di jalan sepi itu, terus saja sampai suatu tempat
Di mana ada sesosok manusia yang kehilangan jati diri, harapan, & memori
Yang terpaku kebingungan apa yang harus dilakukan & bagaimana agar tegar
Kau tahu? Mengapa aku di sini? Mengapa aku terdiam lesu di ujung jalan?
Sedih tatap mentari akan pergi, tepat di ujung jalan ini, dengan tatapan kosong
Di sini hanya berteman sepi, berjaket angin hangat senja yang akan sirna
Boleh saja kau tebak yang aku pikirkan sekarang, dengan wajahku yang kusut
Sedih, duka, gundah, gelisah, stres, linglung, putus asa, atau apapun itu, entahlah
Kau pasti bertanya mengapa hal itu terjadi, tetapi terlalu panjang untuk cerita

Ya, kau boleh saja menebak lantaran aku merasa bersalah, atau kehilangan
Itulah yang menyebabkanku menyepi & terdiam di sini, terlalu sedih di jalan ini
Mengejar sesuatu, mengejar seseorang, lelah tak terkira, banyak berharap
Terus berlari mengejar, kulihat bayang seseorang & impianku sendiri di sana
Tapi itu terlalu cepat menjauh, aku mulai kehabisan tenaga & semangatku
Hingga akhirnya aku tersungkur di ujung jalan yang sepi tanpa siapa pun di sini
Menghilang ditelan mentari, atau pandanganku yang kabur lantaran kelelahan
Semua tentang diriku, harapanku, & memoriku terserak & berantakan, sedih
Sampai aku tak tahu lagi bagaimana menyusunnya, tak tahu lagi harus apa

Pengembaraanku terhenti, perjuanganku mungkin berakhir di ujung senja itu
Sebuah misteri : Ke mana kau pergi? Ke mana mimpiku lari? Mengapa hilang?
Kau entah di mana sekarang, bukankah kau janji takkan menghilang? Lupakah?
Kini saat aku mengejarmu, kau justru menghilang, dibohongi harapan palsu?
Aku tetap bersabar di sini, meski kau entah di mana sekarang, masih bersabar
Entah kau lupakan aku, atau membenciku, atau apalah itu, terserah kau itu
Masih teringat saat aku mengejarmu karena penasaran tentang sosok indah itu
Yang kemudian saling memendam perasaan, lalu berujung pada keputusasaan
Mengejarmu adalah dosaku mengapa aku tak segera kuungkapkan hal itu

Tentang diriku, kepada jati diriku yang terlepas & tumpah di atas ujung jalan ini
Terlalu banyak perbuatan yang sia-sia, mengecewakan, & menyebabkanku nista
Aku ingin menghapus semua kesalahanku, berdoa & merenungkan di sini
Tuhan, sehina inikah aku, sampai Kau tak izinkan aku berlari untuk melupakan?
Apa ini juga yang menyebabkan seseorang yang kukagumi itu meninggalkanku?
Atau mengapa? Tertunduk lesu di sini, menyesali kebodohanku, menyedihkan
Haruskah aku berubah demi seseorang? Aku rasa itu bukan alasan yang tepat
Berubah untuk diri sendiri adalah keharusan untukku demi masa depanku ini
Apa daya, untuk bangkit pun tak kuasa, berlari pun tak mampu lagi, suram

Biarkan aku di sini, meresapi senja yang mulai pergi & menghilang di ujung jalan
Entah kau kembali atau tidak, itu terserah kau, aku tidak memaksa kau lagi
Terserah kau nilai aku bagaimana, aku ikhlas menerima caci makimu kepadaku
Kepada tentangku, harapanku, & memori yang terserak di ujung jalan di senja
Maafkan diriku & semua masa laluku yang terlalu suram, hitam, kelam, kejam
Kini senja berganti menjadi malam : sepi, dingin, haru, beku, berbumbu gelisah
Untukmu yang menghilang di saat aku mengejarmu sampai jatuh di ujung jalan
Jika esok hari atau selang waktu yang lama kau kembali ke sini, ujung jalan ini
Jangan kau tangisi jika aku sudah tak ada di sini, kuadukan semua pada Tuhan

(Penghujung malam yang sepi, di tengah kebuntuanku, 3 Maret 2017 : Untuk dirimu yang di ujung sana tempat mentari tenggelam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar